Penyebab Malnutrisi

Penyebab Malnutrisi Kasus malnutrisi (ketidakseimbangan gizi) pada mereka yang berusia lanjut sering luput dari perhatian, pada hal nutrisi yang baik itu bisa menjaga mereka agar tetap sehat samapi akhir hayatnya. Kaum lanjut usia umumnya rentan mengalami malnutrisi karena berbagai macam penyebab.

Penyebab Malnutrisi

Apa Malnutrisi itu?

Harus dipahami bahwa malnutrisi bukan hanya masalah kurang gizi, tetapi juga kelebihan gizi. Yang namanya “mal” itu adalah gangguan. Jadi arti harfiah, malnutrisi adalah gangguan nutrisi yang terjadi karena kesenjangan antara supplai (asupan) dan kebutuhan. Dalam hal ini ada 2 bentuk malnutrisi. Pertama, supplainya lebih banyak dari yang dibutuhkan tubuh sehingga menjadi obesitas atau gemuk berlebihan.

Kedua, bisa juga supplainya kurang dari yang dibutuhkan sehingga kurus sekali. Harus diingat juga , bahwa kasus malnutrisi tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut saja, tetapi masalahnya lebih menyolok pada lansia.

WHO mendifinisikan malnutrisi sebagai ketidakseimbangan antara supplai nutrisi dan kebutuhan energi tubuh untuk mendukung pertumbuhan, pemeliharaan dan kerja fungsi spesifik tubuh yang sehat. Karena itu malnutrisi, dapat disebut sebagai keadaan pola makan yang memberikan asupan nutrisi yang kurang tepat, baik kekurangan maupun kelebihan makronutrien sebagai sumber energi (karbohidrat, lemak, protein) dan kekurangan mikronutrien yang diperlukan sebagai pendukung proses metabolisme tubuh (vitamin, mineral).

Berat badan turun, lemah, cepat lelah, berjalan melambat dan berkurangnya aktivitas fisik dianggap masyarakat awam sebagai karakteristik orang usia lanjut. Padahal itu adalah gejala malnutrisi yang dialami mereka. Meski sudah berusia 60 tahun, kebutuhan kalori orang usia lanjut tetap tinggi. Selain itu, meskipun protein nabati cukup bagus, tetapi protein hewani tetap dibutuhkan pada lansia untuk mencegah pengecilan otot.

Malnutrisi pada lansia dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi, karena terjadinya penurunan imunitas. Selain itu juga malnutrisi menurunkan kemampuan tubuh  untuk menyembuhkan luka, menurunkan fungsi otot, dan dapat menyebabkan gangguan pernafasan. Malnutrisi dalam pengertian asupan gizi berlebihan, melalui sebuah kondisi yang disebut sebagai sindrom metabolic, sangat berhubungan dengan jantung koroner, diabetes, hipertensi dan kanker.

Sebenarnya kasus malnutrisi tidak berdiri sendiri, dan seringkali disebabkan oleh penyakit lain yang mengganggu metabolisme tubuh. Selain itu, malnutrisi sendiri sering pula diiringi dengan komplikasi penyakit berbahaya, sehingga lansia penderita malnutrisi itu harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Namun malnutrisi pada lansia bukan hal yang sangat menakutkan seperti halnya dengan penyakit berat yang berbahaya.

Mengapa Malnutrisi Pada Lansia Menjadi Masalah

Masalah malnutrisi pada lansia ini adalah, masalah seluruh umat manusia di belahan bumi manapun. Di Eropa atau Amerika juga ada lansia yang mengalami malnutrisi. Menurut penelitian para ahli, pada tahun 2010 dengan 702 pasien lanjut usia rawat jalan di 10 rumah sakit di Indonesia, ditemukan 56,7% beresiko malnutrisi dan 2,1 % diantaranya positif mengidap malnutrisi. Sekitar 0,4% diantaranya diklarifikasikan memiliki berat badan rendah, dan 22% lainnya justru mengalami obesitas ( kelebihan berat badan ).

Mengapa Malnutrisi ini Bisa terjadi Pada Lansia

Dengan bertambahnya umur seseorang menjadi tua, terjadilah perubahan fisik semakin menurun, sehingga kemampuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi semakin menjadi sulit. Ada beberapa faktor  baik dalam diri sendiri (internal) dan dari luar tubuh (eksternal) yang dapat mempengaruhi asupan makanan kita, seiring dengan bertambahnya umur yang meningkatkan resiko terjandinya malnutrisi.

Selain perubahan fisik, juga terjadi penurunan pada segi kebutuhan asupan gizi yang diperlukan sehari-hari. Umumnya kelompok pria, wanita aktif, remaja putri dan anak-anak membutuhkan sekitar 2.200 kalori perhari.

Sedangkan pria aktif dan remaja putra membutuhkan lebih banyak asupan kalori yaitu 2.800 kalori, untuk mendukung kegiatan fisiknya yang lebih banyak. Untuk lansia dan wanita sebenarnya cukup 1.600 kalori. Namun lebih rinci lagi untuk lansia dengan kisaran usia diatas 50 tahun membutuhkan sekitar 1.900 kalori, setelah usia diatas 60 tahun turun lagi menjadi 1.700 kalori dan usia diatas 70 tahun hanya membutuhkan 1.500 kalori.

Faktor – faktor yang mempengaruhi asupan makanan tersebut pada lansia menjadi tidak optimal terdayagunakan adalah sebagai berikut :

Semakin bertambah tua seseorang, terjadilah penurunan kemampuan pada indera penciuman, perasa dan penglihatan yang dapat mengurangi selera makannya.

Berkurangnya gigi atau pemakaian gigi palsu serta berkurangnya produksi ludah yang menyebabkan mulut kering, juga dapat menurunkan  selera makan, dan mengganggu proses penguyahan menelan.

Pada orang tua juga mungkin terdapat penyakit kronik,yang sudah terjadi bertahun-tahun, yang dapat juga menurunkan selera makanAdanya restriksi (Hambatan) memakan makanan tertentu (berpantang atau memilih-milih)Berkurangnya keinginan atau nafsu makan.Berkurangnya kemampuan untuk bergerak dan ketidakmampuan untuk berbelanja dan memasak makanan sendiri yang sesuai dengan selera.

Efek samping pemakaian obat – obat tertentu yang mengurangi kemampuan tubuh untuk menyerap zat gizi tertentu, atau obat – obatan yang mengurangi nafsu makan.Rendahnya pendapatan, terutama bagi orangtua yang tidak punya anak dan hanya mengandalkan uang pensiun, sehingga kesulitan untuk membeli makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi.Ada beberapa gejala – gejala yang dapat mengindikasikan seseorang lansia itu mengalami malnutrisi, diantaranya adalah :Hilangnya masa otot (sarkopenia)Berkurangnya lemak dibawah kulit

Penurunan berat badan (lebih dari 5% berat awal tubuh)Tulang yang prominen (terlihat menonjol)Adanya ruang kosong atau cekung di bawah mata

Memar di kulit

Kulit kering berisisik

Adanya penumpukan cairan dibawah kulit

Apa yang perlu dilakukan untuk Mengatasi Malnutrisi

Orang yang mengalami malnutrisi mudah sekali infeksi dan proses penyembuhan lukanya menjadi lebih lama, karena proteinnya sudah berkurang. Jadi untuk tipe pengobatan malnutrisi yang dianjurkan, sangat bergantung pada jenis serta tingkat keparahan malnutrisi yang terjadi, dan apakah pasien tersebut memiliki kondisi atau penyakit yang menjadi kontributor terjadinya malnutrisi. Jika ada faktor kontributor itu, maka yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah menyembuhkan atau menghilangkan faktor tersebut.

Ketika seseorang didiagnosa positif malnutrisi , dokter akan membuat rencana perawatan yang diperlukan. Dalam rencana perawatan tersebut, pasien akan diminta untuk memilih makanan dan minuman yang sehat dan baik untuk tubuh, serta memastikan pasiennya menerima pola makan yang sehat, bernutrisi dan seimbang.Bagaimana Cara mencegah MalnutrisiUntuk mencegah terjadinya malnutrisi pada lansia di keluarga kita, ada beberapa tips sederhana yang dapat dilakukan yaitu :

Buatlah pola makan dalam porsi sedikit, tetapi frekuensi makannya lebih sering dibandingkan dengan pola tiga kali sehari dengan porsi besar.Makanlah bersama – sama sekeluarga di rumah dalam satu meja. Orangtua kita pasti akan merasa senang, dan dia dianggap masih adaJangan paksakan diri untuk makan cepat dengan terburu – buru.

Buatlah makanan dengan konsisten yang mudah ditelan, terutama bagi lansia yang mengalami gangguan mengunyahTambahkan keju atau margarine pada sayuranSebelum minum teh atau kopi pastikan sudah memakan makanan utama lebih dahulu.Minumlah susu tinggi proteinPastikan minum air putih yang cukup.Kurangi minum alkohol atau bahkan kalau bisa tidak sama sekali http://kiwkiwherbal.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *